Senin, 23 Januari 2017

PELATIH KUDA KESAYANGAN RAJA

Raja memiliki kuda istimewa yang gagah dan berbulu putih. Si putih dilatih oleh Pak Kole, sehingga kuda itu hanya menuruti perintah Raja. Si Putih tetap berdiri tegak walaupun peluru berdesing di kanan kirinya. Atau bila sebatang anak panah menancap di kakinya. Bahkan, ketika seekor buaya berdiri hanya dua meter di depannya. Jika Raja memerintahkan untuk berjalan, kuda itu berjalan.

Jika Raja memerintahkan berhenti, ia berhenti.

Ketika Raja sedang berburu, seekor ular mendekati si Putih. Si Putih diam karena Raja tidak memerintahkan apa-apa. Akibatnya, ular memagut kaki kuda itu. Saat itu, Pak Kole sedang menyiapkan rumput dan dedak untuk makanan si Putih. Ketika mengetahuinya, Pak Kole segera mengusir serta membunuh ular berbisa itu. Namun, si Putih sudah terkapar. Nyawanya tak tertolong.

Raja tahu bahwa itu bukan kesalahan Pak Kole. Akan tetapi, menurut hukum kerajaan Pak Kole harus dihukum mati karena lalai.

Raja sangat sedih. Mencari pelatih sebaik Pak Kole bukan hal mudah. Juga, tidak pantas jika Pak Kole dihukum mati.

Raja berunding dengan para menteri agar pasal dalam hukum kerajaan diubah. Akan tetapi, para menteri mengatakan bahwa hukum itu sudah berlaku ratusan tahun. Seorang pelatih kuda raja memang harus waspada menjaga kudanya.
Raja sangat sedih. Namun ia mendapat akal. Ia ingin para menteri melihat betapa bijaknya Pak Kole.

"Baik, besok kita adili Pak Kole. Tetapi, biarlah Pak Kole memilih cara kematian yang iainginkan! Kita tidak perlu menyediakan tiang gantungan! Siapa tahu, ia punya ide lain!" usul Raja.

Para menteri setuju.
Keesokan harinya, Pak Kole diadili. Ia tampak tenang. Ia menyatakan penyesalan karena lalai menjaga si Putih.

Lalu, Raja bertanya. "Pak Kole, jawab pertanyaan ini dengan jujur. Kematian yang bagaimana yang Bapak inginkan?"

Pak Kole menjawab,"Kematian sesuai waktu yang dikehendaki Tuhan, bukan yang diputuskan manusia. Tuhan berkuasa atas hidup mati seseorang. Yang muda belum tentu mati belakangan, yang tua belum tentu mati duluan!"

Para menteri terdiam. Mereka jadi sadar, kalau Pak Kole sangat bijaksana. Ia tidak pantas dihukum mati. Mereka juga sadar, kalau Raja sangat sayang pada Pak Kole.

Akhirnya, Pak Kole tidak jadi dihukum. Raja lalu membeli kuda baru. Kali ini, Pak Kole melatih kuda itu agar menjadi kuda yang cerdas. Kuda yang bisa menghindar dari bahaya, walau tidak diperintah Raja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar